Pantai Klayar
April 25, 2010
Perjanalanan darat dengan sepeda motor ternyata menawarkan “keasyikan” tersendiri. Keasyikan menikmati pemandangan selama perjalana, melewati jalan yang berliku naik turun, jalan sempit, serta tidak ribet dengan rambu2 lalu lintas yang hanya dilewati oleh kendaraan tertentu (misal mobil) karena jarang sekali rambu larangan jalan untuk roda dua seperti sepeda motor. hehe…
Kali ini rasa ingin tahu dan kangen karena sudah 10 tahun lewat tidak menikmati keindahan panorama Pantai Klayar, yang saat 10 tahun lalu untuk menuju ke Pantai, memerlukan perjuangan yang teramat berat dengan mobil. Apakah kejadian 10 tahun lalu akan sama dengan perjalanan kali ini menggunakan sepeda motor?
Karena perjalanan kali ini bersama seorang teman yang “tergoda” oleh cerita yang sewaktu chat, maka diperlukan kesiapan lebih matang bila dibanding perjalanan itu aku tempuh sendiri atau berdua sama istri. Biasanya perjalan berdua dengan istri tidak memerlukan persiapan yang terlal njlimet karena memang diniati travelling dengan tujuan tertentu. Nggak harus punya target waktu harus sampai jam berapa atau nanti nginep di mana andaikan memerlukan bermalam. Nah, untuk kali ini, mau nggak mau harus siap dengan rencana itu semua. Sampai di lokasi jam berapa, andaikan nginep, dimana, umpama mau menikmati sunrise berangkat jam berapa dari penginapan. Huft, agak ribet sih, tapi mau gimana lagi… emang perjalanan ngajak orang lain.
Berangkat dari Madiun jam 15.30 wib setelah shalat Asar, terlebih dahulu nyamperin temen di Jalan Thamrin Madiun. Eh, ternyata teman yang mau ikut belom siap, dikiranya nggak jadi coz nggak ada confirmasi sebelumnya. Padahal jam 12.00 dah aku kirim INBOX di Facebooknya, dan ternyata koneksi internet dia lemot, so gak kebaca. Hahahaha, maunya cari praktis lewat FB ternyata malah nggak praktis. Knapa nggak sms or telpon, boro2 nomor telpon, ketemu dia aja baru sekitar sebulan itupun lewat pertemanan Facebook stelah hampir 15 tahun enggak ketemu. Bodohnya hanya mengandalkan komunikasi lewaf FB dan lupa menanyakan no telpon masing-masing. OK, no problem bwat pengalaman, lain waktu tidak mengandalkan satu “sarana” komunikasi.
Setelah menunggu beberapa saat temen nyiapkan diri, akhirnya kita berangkat jam 16.00 wib menyusuri jalan raya madiun ponorogo yang sedikit padat karena pada jam itu banyak karyawan pulang kerja. Tapi, udara sore yang semriwing tidak membuat badan gerah atau panas …. terlebih setelah masuk daerah Gemaharjo, suasana pegunungan yang sejuk mulai terasa. Seolah ingin berhenti senejak untuk menikmati pemandangan alam dan sejuknya hawa pegunungan. Sepeda motor terus kupacu dan berharap sampai di Pacitan tidak sampai malam. Dan alhamdulillah, masuk kota Pacitan terdengar suara adzan Maghrib. Setelah keliling kota Pacitan mencari tempat penginapan, akhirnya dapat penginapan di pinggiran kota, Hotel Wijaya semalam 60rb kamar mandi didalem, kipas angin, dan televisi … dan bangunan baru. Lumayan buat ngilangin rasa capek.
Setelah mandi sholat, bersama istri menyempatkan diri jalan-jalan ke kota Pacitan. Lumayan rame, sepertinya seluruh masyarakat Pacitan tumplek blek di Alun-alun. Muter-muter mulai jalan arah alun-alun, ke barat sampai mendekati pantai Teleng trus kembali ke alun-alun.
Hidup penuh Warna
February 10, 2010
Hidup itu pilihan. Kenapa? karena hanya manusia yang hidup jiwa raganya yang dapat melalukan pilihan-pilihan hidup. Manusia bebas memilih, menentukan bahkan melakukan keputusan-keputusan hidup yang akan dibarengi dengan konsekuensi-konsekuensi didalamnya. Misalnya, dia memutuskan untuk menikah, maka sudah sewajarnya kalau dia akan menghadapi konsekuensi dari keputuannya itu. Konsekuensi yang mudah dilihat adalah mencari nafkah untuk keluarga. Apakah cukup mencari nafkah? owh… ternyata tidak. Kalo boleh meminjam istilah musik … dia akan terjun sepenuhnya dalam “blantika kehidupan keluarga” yang rumit dan memerlukan kesabaran dan strategi untuk mengurai kerumitan itu. Bagaimana membimbing keluarga ke jalan yang diridhoi Allah, bagaimana membangun komunikasi yang efektif bagi anggota keluarganya. Hubungan Bapak dan Ibu, hubungan Bapak Anak, hubungan ibu anak, hubungan anak dengan anak, bahkan hubungan keluarga tersebut dengan lingkungan dimana dia tinggal. Semuanya membutuhkan strategi bahkan seni berkomunikasi agar kehidupan keluarga tersebut berjalan normal dan dapat mencapai tujuan dan cita-cita keluarga, yaitu mawaddah wa rohmah sehingga menjadikan rasa yang aman, nyaman dan terwujud rumahku syurgaku.
Mudahkah untuk mencapainya? Jawabannya bisa ya bisa tidak, semua kembali kepada pribadi masing-masing anggota keluarga itu. Dijawab Ya apabila dalam anggota keluarga telah tercipta komunikasi terbuka yang tidak ada lagi yang harus disembunyikan dalam membina keluarga. Seorang suami secara terbuka mampu mengkomunikasikan keinginan, harapan, dan arah yang akan dicapai dalam membangun keluarga. Seorang istri secara terbuka mampu menjadi pendamping sekaligus penguat misi yang telah dicanangkan keluarga. Seorang anak mampu secara terbuka menyampaikan permasalahannya baik permasalahan pribadi maupun dengan temannya kepada kedua orang tuanya.
Tentunya … itu semua tidak mudah. Diperlukan latihan-latihan selama proses berjalannya sebuah keluarga. Belum lagi problem dari lingkungan, baik lingkungan kerja suami, istri maupun lingkungan sekolah anak-anaknya jika anaknya masih usia sekolah.
Jadi … itulah hidup … hidup penuh warna … bak pelangi yang menggores langit dengan warnanya yang indah. Akan terasa indah hidup ini bewarna seperti warnanya pelangi. Enak dipandang, dan orang yang memandangnya tidak ingin pelangi itu cepat-cepat pergi atau hilang dari pandangan.
Pacitan – Trenggalek
August 13, 2009
Setelah prepare seperlunya, rencana perjalanan Madiun-Pacitan-Trenggalek dengan sepeda motor matic dimulai. Berangkat dengan mengucap Bismillahi tawakkalu ‘alallah, walaa haula walaa quwwata illa billah. Star dari Jiwan-Madiun jam 16.00 menuju ke jalan raya arah Ponorogo. Setelah menyusuri jalan yang nggak begitu rame, sampai di depan pasar besar Ponorogo, sambil lihat kanan kiri, mata tertuju pada penjual Ice Juice … rasanya pas buat ngilangi rasa haus (padahal juga nggak haus … ngeles coz ngiler liat ice juice). Setelah puas minum ice juice wortel dan tomat, Sesampainya di pertigaan Dengok Ponorogo -pertigaan arah Trenggalek-Pacitan- berhenti untuk ngisi bensin. Setelah diisi rp. 10 rb, perjalanan di lanjut menuju arah Pacitan. Angin semilir sore hari terasa segar. Jalur Ponorogo-Pacitan melewati jalan sempit, berkelok dengan jurang disebelah kiri dan tebing di sebelah kanan. Tidak seluruhnya jalur Ponorogo-Pacitan mulus jalannya. Masuk wilayah Kecamatan Tegalombo, sepanjang 10 km jalan masih sempit dan berlobang. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, sampailah di Kota Pacitan tepat terdengar adzan Maghrib berkumandang. Sampai di perempatan jembatan Penceng, nampak warung sederhana, Sego Gobyos, saya tertarik untuk menikmatinya. Eh… ternyata bener-bener gobyos (jw. keringatan). Nasi dengan lauk campur aduk yang semuanya Pedasssssss … telah memuaskan selera makan setiap pembeli. Setelah puas, dilanjut mencari penginapan. Bejone awak, ternyata pada saat yang bersamaan hotel-hotel full boooked karena di Pacitan ada event Touring Sepeda BMX se Jawa Timur. Namun, nasib baik masih berpihak. Kita mencari hotel di luar kota, daerah Sidomulyo, yaitu Hotel Wijaya dengan fasilitas yang cukup lumayan. Dengan sewa Rp. 60 rib, kamar mandi di dalam, sudah cukup melegakan buat merebahkan tubuh yang capek selama perjalanan.
Setelah mandi dan ganti pakaian, meluangkan waktu buat jalana-jalan ke kota Pacitan dan ke Pantai Teleng Ria. Nasib tidak berpihak, ternyata sudah jam 20.00 wib, masih ada penjaga yang narik retribusi masuk pantai. Aku putuskan untuk tidak jadi ke pantai, ditunda besok pagi2 sekali.
Pagi, tepatnya pukul 05.30 wib ke Pantai Teleng Ria dan ternyata belum ada penjaga, so gak keluar uang buat bayar retribusi.

Setelah puas, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Pelang, Panggul, Trenggalek. Melewati jalan lama -karena JLS (jalan lingkar selatan) belom selesai- tertera di penunjuk jarak Trenggalek 118km. Kembali melewati jalan berkelok, sempit dan naik turun. Sesampainya di SUmberejo, Kecamatan Sudimoro, Pacitan di kanan jalan tepatnya di Pantai Bawur, nampak pembangunan mega proyek PLTU.

Berhenti sejenak untuk melihat dari jauh, pembangunan proyek PLTU.
Setelah cukup istirahat sambil menikmati pemandangan pantai dan PLTU, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Pelang, Panggul, Trenggalek. Pesona Pantai Pelang cukup eksotis.

Dan 500 m dari Pantai, terdapat Air Terjun ….

Sekitar 3 jam, kami puaskan untuk menikmati keindahan Pantai Pelang dan Air Terjunnya.
Pada jam 13.00 wib … perjalanan dilanjutkan ke kota Trenggalek. Sambil menikmati keindahan alam, serasa menyatu dengan makhluk ciptaan Allah dan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan kepada sang Khalik, Allah SWT.
Jam 17.00 wib alhamdulillah sampai di rumah (Madiun) setelah menyusuri jalan dengan motor matic. Total perjalanan kurang lebih 350km. huft.

menikmati ikan laut di pantai prigi
May 21, 2009

Minggu pagi, tanggal 17 Mei 2009 tepatnya jam 6.30 wib kami sekeluarga berangkat ke pantai prigi, wilayah Kabupaten Trenggalek, Propinsi Jawa Timur. Bersama dalam rombongan tersebut, siswa PSG dari SMK Yosonegoro Magetan yang telah menyelesaikan praktek selama 3 bulan. Siswa tersebut antara lain Fajar, Kholik, Ashari, Arwan, Agus, Linda, Vera, dan Irfan. Dengan mengucap Bismillahirrohmaanirrohim, rombongan ber 10 plus 2 anak berangkat. Hari itu cuaca cerah, tidak ada mendung serta berangkat dengan jalan santai 60-80 km/jam. Jalur yang dilewati dari Madiun berangkat lewat Jalan Raya SOlo, Jl. Mayjend Sungkono, Sleko, Jl SOekarno Hatta, Jl. Raya Ponorogo, Pagotan, Dolopo, Mlilir, Ponorogo, Jetis, Sawo, Perbatasan Trenggalek, Tugu, Trenggalek Kota, Durenan, trus meluncur ke Pantai Prigi.
Dengan iringan music dari MP3, perjalaan serasa menyenangkan. Dari Madiun, disuguhi pemandangan sawah terbentang, sesampai di Ponorogo melewati patung Adipura, yaitu patung yang mengangkat piala Adipura di dekat pasar. Sesampai di wilayah Sawoo, ada POM terakhir sebelum memasuki wilayah hutan dan pegunung Ponorogo Trenggalek, mobil diisi BBM secukupnya. Memasuki wilayah hutan, jalan berkelok kelok sedikit tanjakan. Kebetulan jalan sepi, sehingga perjalanan lancar. Jalan yang dilewatipun juga tidak terlalu jelek, sehingga perjalanan menyenangkan. Sesampainya di perbatasan Ponorogo Trenggalek, kita berhenti untuk menikmati pemandangan alam yaitu perbatasan yang ditandai dengan patung Reog.
Setelah sejenak menikmati alam pegunungan, dilanjutkan perjalanan ke kota Trenggalek. Jarak Madiun – Trenggalek diperkirakan 100 km. Kemudian, keluar dari kota Trenggalek, jalan yang dilalui sekitar 1 km rusak dan ada perbaikan jalan tepatnya di daerah Pogalan Trenggalek. Namun, hal ini tidak mengganggu perjalanan. Perjalanan dilanjutkan menuju ke Durenan, yaitu perbatasan Trenggalek Tulungagung, diperkirakan dari Kota Trenggalek 20 km. Sesampainya di pertigaan Durenan, belok ke kanan atau ke selatan. Karena dek Levi rewel minta jajan, maka di deket pasar Durenan berhenti. Setelah cukup berhenti, perjalanan dilanjutkan. Jarak tempuh Durenan – Pantai Prigi kurang lebih 30km. Jalan menuju Prigi melewati jalan berkelok-kelok dan naik turun, melewati pegunungan, dan sedikit tanjakan di Km ke 10. Namun jalan yang ditempuh tidak terlalu berat, sehingga mobil kecil Daihatzu Zebra yang muat 10 orang dewasa dan 2 anak-anak dapat melewati jalan tersebut dengan lancar. bersambung
Hay!
April 16, 2009
Welcome to kangben.wordpress.com.